June 2016


Ada kabar gembira bagi guru yang sudah sertifikasi. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memastikan pencairan tunjangan profesi guru (TPG) non-PNS  triwulan 2 (kedua) akan dimajukan. Dari jadwal semula Juli menjadi akhir Juni 2016.

Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbud Sumarna Surapranata mengatakan, perubahan jadwal pencairan itu mempertimbangkan Lebaran yang jatuh pada 6 Juli. ’’Kami ingin uangnya bisa digunakan untuk persiapan Lebaran,’’ katanya di kantor Kemendikbud kemarin (20/6).

Dia menegaskan bahwa jadwal pencairan TPG khusus untuk guru-guru non-PNS dimajukan lantaran anggaran untuk mereka ada di kas Kemendikbud. Jadi, Kemendikbud tinggal mencairkan ke rekening tabungan guru sasaran.

Data dari Kemendikbud menunjukkan, ada 200.558 guru non-PNS yang sudah mendapatkan SK untuk pencairan TPG akhir Juni ini. Kemudian, sisanya, ada sekitar 17 ribu yang proses penerbitan SK-nya belum tuntas. Total anggaran TPG untuk guru non-PNS mencapai Rp 4,9 triliun untuk satu tahun.

’’Kalau untuk triwulan II saja sekitar Rp 1,2 triliun,’’ tutur pejabat yang akrab disapa Pranata itu.

Kemendikbud juga mengimbau pemerintah daerah (kabupaten dan kota) agar mempercepat pencairan TPG triwulan II. Pranata menjelaskan, anggaran TPG yang ada di kas pemda dialokasikan untuk guru-guru PNS.
Menurut dia, kondisi yang ideal adalah TPG untuk guru PNS dan non-PNS sama-sama cair di akhir Juni ini. Namun, Pranata tidak bisa memastikan karena pencairan TPG untuk PNS merupakan kewenangan pemda.

Mayoritas sasaran pencairan TPG non-PNS ada di Jawa Timur dengan jumlah 53.463 orang guru. Disusul Jawa Barat (41.831 orang guru), Jawa Tengah (37.716), DKI Jakarta (23.576), dan Sumatera Utara (20.436).

Pranata mengatakan, saat ini surat perintah membayar (SPM) pencairan TPG itu sudah keluar. Dengan demikian, dia optimistis pencairan TPG yang semula Juli menjadi akhir Juni itu bakal terlaksana.

Pranata menegaskan, tidak ada pengaruh pemangkasan anggaran Kemendikbud untuk urusan TPG. Dia mengatakan, pemangkasan anggaran Rp 6,5 triliun itu sudah dipagari supaya tidak menyenggol anggaran untuk gaji dan tunjangan kinerja pegawai Kemendikbud serta alokasi TPG untuk guru non-PNS.

Pengamat dan praktisi pendidikan Indra Charismiadji menyambut baik rencana Kemendikbud mempercepat pencairan TPG itu. Sebab, selama ini kabar yang selalu muncul adalah pencairan TPG terlambat, jumlahnya tidak sesuai, dan kabar-kabar negatif lainnya.

Indra lantas berharap para guru secara profesional dan proporsional menggunakan uang TPG itu. Dia menjelaskan, sesuai namanya, uang itu adalah tunjangan profesi guru.

’’Sehingga di dalamnya ada alokasi untuk peningkatan profesi guru. Bukan seluruhnya habis untuk belanja keperluan pribadi,’’ katanya.

Pria yang bergabung dengan organisasi Kawal Pendidikan itu mengatakan, pemberian TPG harus diukur dengan hasil atau outcome guru. Jika tidak ada outcome atas pencairan TPG itu, dia khawatir malah ada unsur memperkaya orang lain dengan uang negara.

source : JPNN



Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandi memastikan tunjangan hari raya (THR) bagi pegawai negeri sipil (PNS) dicairkan pada tujuh hari (H-7) sebelum Hari Raya Lebaran.

“Saya sudah menerima surat dari Mensesneg (Menteri Sekretaris Negara) bahwa Bapak Presiden sudah menyetujui usulan menpan untuk mengeluarkan gaji ke-13 dan THR bagi aparatur negara. Perpresnya tadi pagi sudah kami ajukan pada presiden,” tutur Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Reformasi Birokrasi (Menpan-RB) Yuddy Chrisnandi saat melakukan safari Ramadhan ke Kota Serang, Banten, Selasa (14/6/2016).

Untuk besaran THR, kata Yuddy, sesuai dengan gaji pokok pegawai pemerintahan yang diterimanya. "Lumayan besar untuk keperluan hari raya,” ucapnya.

Sementara itu, gaji ke-13 akan dicairkan oleh pemerintah satu pekan setelah Lebaran. Dia mengungkapkan, pertimbangan gaji ke-13 tidak diberikan sebelum Lebaran agar uang itu bisa digunakan untuk kepentingan sekolah anak, bukan untuk keperluan Lebaran.

“Kalau dikasih sebelum lebaran bisa habis pakai keperluan lebaran,”

Sebelumnya, Yuddy mengungkapkan mempersiapkan anggaran tunjangan hari raya untuk pegawai negeri sipil (PNS) tahun ini sebesar Rp20 triliun.


Source : http://nasional.sindonews.com/


JAKARTA- Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) mendesak pemerintah segera mengangkat honorer kategori dua (K2) menjadi CPNS.

Bagi PB PGRI, tidak ada yang tidak bisa dilakukan pemerintah bila memang berniat mengentaskan masalah honorer K2.

"Pemerintah tolong perhatikan guru honorer K2. Mereka ini yang nyata-nyata melaksanakan tugas guru PNS," tegas Plt ‎Ketum PB PGRI Unifah Rosyidi kepada JPN, Sabtu (4/6).

Dia mencontohkan pengangkatan puluhan ribu bidan PTT menjadi PNS. Ini karena Menkes punya itikad baik mengangkat "anak-anaknya" menjadi PNS dengan memberikan jaminan anggaran.

"Kalau Menkes bisa berbuat begitu, kenapa Mendikbud tidak bisa. Mendikbud punya "anak-anak" yang banyak juga dan menjadi garda terdepan dalam program pendidikan," tuturnya.

Unifah mena‎mbahkan, Mendikbud harus mengutamakan guru honorer K2. Jangan hanya merekrut guru-guru baru.


"PGRI akan terus mendorong Mendikbud untuk mengalokasikan anggaran pengangkatan guru honorer K2 menjadi PNS. Bila ada usulan dari Mendikbud, kami yakin MenPAN-RB akan berani mengeluarkan izin prinsip pengangkatan," tandasnya.


Bulan Ramadan yang menjadi waktu beribadah puasa bagi mereka yang sudah diwajibkan juga menjadi waktu yang tepat untuk mengajarkan puasa bagi anak. Pada usia anak sekolah, puasa bisa mulai dipraktekkan, akan tetapi orangtua harus bisa memastikan kesehatan mereka.

Disampaikan dokter anak dari RS Pusat Pertamina dan Brawijaya Women & Children Hospital, Dr Margaretha Komalasari, SpA, anak mulai usia lima sampai enam tahun bisa mulai diajarkan untuk berpuasa. Proses belajar puasa tersebut tentunya harus bertahap dan tidak mengubah pola makan sehat yang seharusnya dipenuhi selama keseharian mereka.

“Saat anak ikut puasa, pastikan anak diberi makan sahur dan buka dengan proporsi seimbang, jadi tetap ada sayurnya, protein, karbohidrat, mineral. Jangan kasih anak makan banyak minyak yang susah dicerna, misalnya,” pesan dr Margaretha.

Menurutnya, puasa yang dilakukan benar akan membantu menjaga kesehatan anak juga karena puasa membantu anak mengontrol pola makan. Ketika anak belajar puasa, hormon dan enzim di tubuh akan menyesuaikan, katanya. Bahkan beberapa keluhan penyakit yang bisa diderita anak, seperti asam lambung, dapat berkurang.

“Tapi kalau cara makan anak tidak cukup sehat saat sahur atau anak secara mental tidak paham, anak bisa jadi hipoglikemik atau kekurangan gula darah sehingga anak jadi lemas, lesu, atau cenderung dehidrasi. Kalau sudah lihat tanda-tanda seperti itu, tidak apa-apa kalau dibatalkan puasanya,” jelasnya.

Disampaikan dokter anak dari RS Pusat Pertamina dan Brawijaya Women & Children Hospital, Dr Margaretha Komalasari, SpA, anak mulai usia lima sampai enam tahun bisa mulai diajarkan untuk berpuasa. Proses belajar puasa tersebut tentunya harus bertahap dan tidak mengubah pola makan sehat yang seharusnya dipenuhi selama keseharian mereka.

“Saat anak ikut puasa, pastikan anak diberi makan sahur dan buka dengan proporsi seimbang, jadi tetap ada sayurnya, protein, karbohidrat, mineral. Jangan kasih anak makan banyak minyak yang susah dicerna, misalnya,” pesan dr Margaretha.

Menurutnya, puasa yang dilakukan benar akan membantu menjaga kesehatan anak juga karena puasa membantu anak mengontrol pola makan. Ketika anak belajar puasa, hormon dan enzim di tubuh akan menyesuaikan, katanya. Bahkan beberapa keluhan penyakit yang bisa diderita anak, seperti asam lambung, dapat berkurang.


“Tapi kalau cara makan anak tidak cukup sehat saat sahur atau anak secara mental tidak paham, anak bisa jadi hipoglikemik atau kekurangan gula darah sehingga anak jadi lemas, lesu, atau cenderung dehidrasi. Kalau sudah lihat tanda-tanda seperti itu, tidak apa-apa kalau dibatalkan puasanya,” jelasnya.

Demikian informasi di atas semoga bermanfaat untuk anda. Terimakasih.


1. Berbukalah dengan kurma

Kurma merupakan makanan manis yang sangat penting untuk mengisi energi setelah melewatkan 12 jam lebih berpuasa. Kurma kaya akan serat yang dapat mengatur pencernaan Anda. Kurma juga kaya akan magnesium dan potasium.

2. Banyak minum air

Ramadhan tahun ini akan menjadi puncak musim panas. Pastikan Anda cukup minum usai buka puasa sehingga Anda tidak kehausan atau dehidrasi di keesokan harinya. Minumlah delapan gelas air usai buka puasa hingga jelang sahur.

3. Hindari kehausan

Hindari makanan asin, seperti makanan kaleng atau olahan, kacang-kacangan, dan asinan, karena makanan tersebut dapat menambah rasa haus selama Anda berpuasa. Juga hindari makanan yang terlalu pedas. Makanlah lebih banyak buah dan sayuran segar untuk mencegah rasa haus Anda.

4. Berbukalah dengang perlahan

Awali dengan kurma, air, serta sup, semangkuk salad, kemudian makanan utama. Bila Anda merasa kenyang setelah makan salad, Anda dapat istirahat sebentar untuk melanjutkan makanan selanjutnya. Makan yang berlebihan dapat mengakibatkan sakit perut dan kembung, hal ini merupakan kebiasaan yang umum dilakukan saat bulan Ramadhan.

Berbukalah dengan sup hangat agar menyamankan perut seusai seharian berpuasa, isi kembali tubuh Anda dengan cairan guna membantu mempersiapkan sistem pencernaan.

5. Pastikan Anda memiliki semua kelompok makanan.

Ketika buka puasa, Anda harus memiliki sumber biji-bijian, protein, sayur mayur, buah-buahan, dan lemak tak jenuh.

6. Tentukan pilihan makan sehat

Pilih biji-bijan, daging tanpa lemak, dada ayam, ikan, minyak zaitun secukupnya dan buah-buahan termasuk jus buah-buahan. Hindari makanan yang digoreng, dan makanan dengna lemak berlebih.

Daging, kacang-kacangan, telur, dan susu kaya akan protein. Pastikan Anda mempunyai setidaknya salah satu dari sumber makanan di setiap makanan yang tersaji di bulan Ramadhan sebab protein sangat penting bagi sel-sel di dalam tubuh Anda. Sumber protein tersebut juga akan membuat Anda cepat kenyang sehingga mengurangi godaan untuk makan manisan yang berlebih.

7. Hindari makanan asin dan dan manis

Mengonsumsi makanan yang terlalu manis setelah berbuka puasa akan membuat kembung yang mengakibatkan melambatnya proses pencernaan. Hal tersebut juga dapat tingkat gula darah fluktuatif, yang dapat meningkatkan hasrat mengonsumsi makanan yang lebih manis. Itulah mengapa, ada anjuran mengonsumsi makanan manis yang cukup 2-3 jam setelah berbuka puasa.

Sulit untuk menolak makanan manis di bulan Ramadhan. Untuk menghindari konsumsi kalori yang berlebih, puaskan diri dan nikmati bersama keluarga Anda makanan lezat dan kreatif sementara memastikan Anda selalu berlatih mengontrol porsi dan makanan secukupnya.

Makanan yang terlalu asin, pedas, dan makanan olahan akan membuat anda dehidrasi pada puasa di hari berikutnya. Tubuh dapat mencerna makaknan yang mengandung gula lebih cepat, dan nantinya akan membuat Anda lapar lebih cepat.

8. Hindari kopi

Jika Anda peminum kopi, cobalah kurangi konsumsi kopi dua minggu menjelang Ramadhan guna menghindari sakit kepala dan rasa kantuk.

9. Bagilah makanan Anda

Makan tiga kali masih menjadi hal penting dalam bulan suci: buka puasa, makan malam, dan sahur. Ini dapat membantu Anda menghindari cemilan berkelanjutan selama waktu Anda tidak berpuasa.

Bagilah makanan utama ke dalam tiga bagian. Pertama, separuh piring terisi dengan karbohidrat yang kompleks, separuh dengan daging rendah lemak atau daging lainnya, dan separuh sisanya tuangkan sayur mayur. Hal ini akan memastikan Anda menjaga kesehatan dengan makanan yang sehat pula.

10. Olah raga

Lengkapi dengan olah raga dalam rutinitas keseharian Anda selama Ramadhan karena sangat menguntungkan. Olah raga akan membantu Anda mengatur kesehatan tubuh dan pola hidup.

Jika Anda adalah seorang atlet yang terbiasa olah raga berat, Anda masih dapat mengatur kesehatan tubuh dan pola hidup Anda dengna cara menggabungkan sesi latihan Anda beberapa saat sebelum waktu berbuka puasa. Pastikan segera takaran kelembaban atau hidrasi usai Anda berolah raga dan makan perlahan untuk mengisi cairan dan nutrisi. Cobalah berlatih sekitar 1-2 jam setelah Anda berbuka puasa.

Jika Anda adalah seorang atlet yang terbiasa olah raga berat, Anda masih dapat mengatur kesehatan tubuh dan pola hidup Anda dengna cara menggabungkan sesi latihan Anda beberapa saat sebelum waktu berbuka puasa. Pastikan segera takaran kelembaban atau hidrasi usai Anda berolah raga dan makan perlahan untuk mengisi cairan dan nutrisi. Cobalah berlatih sekitar 1-2 jam setelah Anda berbuka puasa.

Demikian informasi di atas semoga bermanfaat untuk anda, terimakasih.



Sri Hartati (47), seorang PNS Guru SDN Karangdadap Kabupaten Pekalongan bikin heboh. Dia mengaku sebagai utusan Tuhan dan memiliki sebuah kitab suci yang diberi nama Alkitab Na'sum‎. Sri Hartati, juga mengaku bertemu dengan Malaikat Jibril, saat dirinya sedang 'sakaratul maut' sakit sangat parah hampir mati.

Kemudian hidup kembali dan mendapat 'ayat-ayat suci' yang menurut pengakuannya, muncul dari perut, dada dan kepala.

Kemudian sang suami menuliskannya dalam bentuk tulisan latin, bukan huruf Arab. Pengakuannya sebagai utusan Tuhan juga terdengar oleh seorang Habib di Jakarta. Kemudian Habib tersebut menelepon dan menanyai banyak hal kepada Sri Hartati. "Saya tidak pernah mengaku nabi, bahkan ada Habib yang telpon saya dan menanyakan apakah benar saya Isa. Saya ‎tidak pernah mengakui itu, saya itu utusan," kata ibu empat anak itu. Menurut dia, nabi dan utusan Tuhan itu adalah dua hal yang berbeda, sehingga orang lain tidak bisa mengecapnya sesat.


"Kalau nabi itu sudah pasti utusan Tuhan, tapi utusan Tuhan itu belum tentu nabi. Dari petunjuk-petunjuk yang saya alami, saya itu utusan," kata dia.

Dia mengaku, terlahir dalam keluarga muslim meski sejak kecil tidak pernah bertemu orang tuanya. "Agama saya dari kecil itu Islam, meski bukan orangtua saya yang mengajarkan. Dari kecil saya tidak pernah ‎bertemu dan tidak tahu orangtua saya itu siapa," kata dia.‎

‎Pengalaman spiritual Sri Hartati, yang telah membukukan kitab tersebut dinilai menyesatkan. Kendati demikian, Sri Hartati menilai masyarakat yang menganggapnya sesat tersebut terlalu berlebihan. "Yang sesat itu seperti apa. Belum baca bukunya (Alkitab Na'sum) seperti apa, sudah mengecap sesat," jelas dia.

Dinas Pendidikan Kota Padang belum akan menggunakan hasil Ujian Kompetensi Guru (UKG) sebagai landasan penetapan jam mengajar guru pada semester baru mendatang. Maksudnya, guru yang mendapat nilai UKG tinggi diprioritaskan mendapatkan jam mengajar daripada guru dengan nilai rendah. Jika ini diberlakukan sejumlah pihak mengkritik kebijakan ini, karena kompetensi guru tidak hanya dilihat dari hasil UKG.



 “Saya belum terima kabar kalau hasil UKG akan digunakan untuk menentukan jam mengajar guru. Jika sudah ada ketetapan seperti itu, seharusnya pusat sudah memberitahu. UKG itu kan program pusat,” terang Kepala Dinas Pendidikan Kota Padang Habibul Fuadi, kepada Haluan, Selasa (31/5).

Habibul juga menyatakan, hingga saat ini hasil UKG masih berada di tangan pusat dan belum ada instruksi kepada Dinas Pendidikan untuk mengambil dan menggunakan hasil UKG tersebut.

Ia juga menyebut, berdasarkan pemahaman yang diterimanya, sejauh ini hasil UKG hanya digunakan untuk pemetaan potensi guru belum digunakan dalam kebijakan pengaturan jam mengajar guru dan tidak berhubungan dengan sertifikasi guru. Bagi guru yang mendapatkan nilai rendah akan mendapatkan pembinaan.

“Sayangnya, hasil UKG ini belum maksimal diper­guna­kan. Pusat masih menyimpan pemetaan terhadap guru yang didapat dari hasil UKG ini,” ucap Habibul. Terkait isu yang beredar di kalangan guru ini, Habibul minta guru tidak mempercayai begitu saja.

Sementara itu, mantan Ketua Lembaga Penjaminan Mutu Pen­didikan (LPMP) Sumatera Barat Jamaris Jamna mengingatkan, jika UKG yang akan menjadi per­timbangan untuk pembagian jam mengajar guru sebaiknya dilaku­kan pengkajian lagi dan pertim­bangan ulang karena akan ber­dampak pada pengurangan pen­dapatan guru.

Ia menjelaskan, jika dikaji dari Undang-Undang Guru me­mang pembayaran gaji guru berda­sarkan jumlah jam mengajar namun jika dikaji lagi dari sisi UU Aparatur Sipil Negara (ASP) maka pemba­yaran sesuai dengan UKG. Menu­rutnya, jika kebijakan pem­berian jam mengajar guru sesuai dengan UKG akan berdampak pada pe­ning­katan kinerja guru tidak men­jadi persoalan, namun jika kebija­kan tersebut berdam­pak pada pengurangan penda­patan guru maka akan lebih baik dikaji lagi.

“Kan kasihan juga, kerjanya tidak sesuai dengan pendapatan yang diperoleh. Kalaupun ada tunjangan untuk guru, tidak juga mencukupi karena tuntutan hidup juga semakin tinggi,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua STKIP PGRI Sumbar Dr Zusmelia, M.Si memandang, UKG bukanlah men­jadi bahan pertimbangan untuk pembagian jam mengajar guru tapi lebih pada uji kompetensi para guru yang ada.

“Dari beberapa kali pembe­kalan yang saya ikuti di pusat, UKG gunanya untuk memetakan kompetensi guru, apa saja yang perlu diperbaiki dan dikuatkan dan di daerah mana saja yang perlu dilakukan penguatan kom­pe­tensi guru. Kompetensi guru itu sendiri ada empat komponen yakni, kompetensi sosial, kompe­tensi pedadogik, kompetensi profesional, dan kompetensi kepribadian, tidak adil jika hanya melihat dari satu sisi,” jelasnya.

Ia kembali menjelaskan, kom­petensi sosial bisa dilihat apakah seorang guru bisa bermasyarakat dan bekerja sama dengan peserta didik serta guru-guru lainnya. Kompetensi pedagogik adalah kemampuan guru dalam menge­lola pembelajaran peserta didik. Kompetensi profesional adalah kompetensi khas, yang membe­dakan guru dengan profesi lain­nya. Kompetensi profesional ini dapat dilihat dari kemampuan guru dalam mengikuti perkem­bangan ilmu terkini karena per­kem­bangan ilmu selalu dinamis.

“Kompetensi profesional yang harus terus dikembangkan guru dengan belajar dan tindakan reflektif. Kompetensi profesional merupakan kemampuan guru dalam menguasai materi pem­belajaran secara luas dan menda­lam, dan kompetensi kepribadian terkait dengan guru sebagai tela­dan bagi siswa dan lingkungan sekitarnya,” tambah Zusmelia.

Menurutnya, selama ini telah terjadi kesalahpahaman oleh guru terkait UKG ini. Sebenarnya tidak ada kaitan dengan gaji atau tunjangan yang akan diperolah karena UKG ini hanya untuk memetakan kompetensi di ma­sing-masing daerah yang nanti­nya akan dimaksimalkan.  Kesa­lahpahaman sejumlah pihak ini menurutnya, kurangnya sosia­lisasi oleh masing-masing daerah dan kurangnya penggalian infor­masi oleh sejumlah guru, jadi timbul berbagai macam kecema­san dan ketakutan pada guru padahal informasi yang beredar tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.

Terpisah, Kepala LPMP Sum­bar Drs Rasoki Lubis, MPd melihat UKG merupakan upaya pemerintah untuk peningkatan kualitas guru dan guru memang harus mendapatkan perlakukan berbeda berdasarkan kompetensi yang dimilikinya.

“Saya mendukung kebijakan tersebut, masa iya guru yang kinerjanya rendah minta diberi­kan apresiasi yang sama dengan guru yang kinerjanya baik,” ujarnya.


Menurutnya, dengan adanya UKG ini akan memacu para guru untuk meningkatkan kompetensi dan sekaligus untuk mengetahui dimana kelemahan masing-ma­sing guru tersebut. “Pemetaan kelemahan masing-masing guru ini akan menjadi bahan evaluasi bagi berbagai pihak, untuk mela­lu­kan peningkatan baik dari segi pembekalan maupun pembi­naan,” ujarnya.
source : harianhaluan.com


Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) berjanji akan mengangkat sekitar 43 ribu dokter dan bidan pegawai tidak tetap (PTT) menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Sayangnya perekrutan ini masih terbentur batasan umur untuk mengikuti ujian CPNS, yakni di bawah 35 tahun.

"Sebanyak 95 persen dokter dan bidan PTT bisa ditangani, artinya bisa diproses menjadi CPNS," tegas Menteri PANRB, Yuddy Chrisnandi saat berbincang di Jakarta, Minggu (29/5/16).

Dari jumlah sekitar 41 ribu bidan PTT, menurut Yuddy sebanyak 39 ribu orang (95 persen) memenuhi persyaratan administrasi perundang-undangan, salah satunya usia di bawah 35 tahun. Sedangkan sisanya sekitar 2 ribu bidan PTT telah berusia di atas 35 tahun.

Sementara persyaratan mengikuti ujian CPNS membatasi usia peserta di bawah 35 tahun. Karena dokter dan bidan PTT tetap harus mengikuti proses seleksi atau tes CPNS sesuai amanat Undang-undang Aparatur Sipil Negara (ASN).

Yuddy mengaku, pihaknya sedang menyiapkan payung hukum berupa Peraturan Pemerintah (PP) atau peraturan Presiden (Perpres) supaya bidan dan dokter PTT di atas usia 35 tahun dapat diangkat menjadi CPNS. Bukan hanya merujuk pada Peraturan Menteri PANRB serta Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes)

"Kalau payung hukum PP atau Perpres sudah siap, maka bidan dan dokter PTT di atas 35 tahun bisa diproses jadi CPNS karena Peraturan Menteri PANRB dan Permenkes saja tidak cukup. Kami sedang berkoordinasi dengan Kementerian Hukum dan HAM soal ini," terangnya.

Yuddy menambahkan, langkah tersebut dilakukan karena bidan dan dokter PTT yang berusia di atas 35 tahun tetap keukeh untuk menjadi CPNS, bukan sebagai pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja.


"Bidan dan dokter PTT di atas 35 tahun menolak jadi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja. Mereka tetap mau menjadi CPNS atau PNS. Sehingga perlu aturan hukum lebih tinggi dari Peraturan Menteri PANRB," ungkap Yuddy.
sumber : www.metroterkini.com

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget
Laporkan Link Rusak Disini
×
_

Kirim masukan, keluhan, atau request aplikasi kepada admin melalui pesan di bawah ini